Yayasan Pendidikan Islam Al Hamidiyah

Y A P I S A

Sen Asen Konang Bangkalan

Madrasah Diniyah Dahulu dan Sekarang

MADRASAH merupakan salah satu dari tiga lembaga pendidikan di Indonesia. Berbeda dengan pesantren dan sekolah, madrasah adalah lembaga pendidikan yang memadukan sistem keduanya. Dari sudut umurnya, keberadaan madrasah patut diacungi jempol, berkat kerja keras masyarakat madrasah tetap eksis hingga saat ini.

Fokus pembahasan penulis adalah pada Madrasah Diniyah. Madrasah Diniyah adalah lembaga pendidikan dan pengajaran Agama Islam jalur luar sekolah. Lembaga ini dikenal bersamaan dengan penyebaran Agama Islam di Indonesia. Pada masa penjajahan, hampir semua desa di seluruh pelosok tanah air yang ada penduduknya yang beragama Islam terdapat Madrasah Diniyah dengan berbagai nama dan bentuk, seperti Pengajian Anakanak, Sekolah Kitab, Sekolah Agama, Sistem Surau, Rangkang dan lainlain. Penyelenggaraan madrasah diniyah biasanya mendapat bantuan dari rajaraja atau sultan setempat.

Setelah Indonesia merdeka dan berdiri Departemen Agama (dahulu) Kementerian Agama (sekarang) penyelenggaraan madrasah diniyah mendapat subsidi dan bimbingan dari departemen Agama. Namun karena berdirinya Madrasah Diniyah memiliki latar belakang tersendiri dan kebanyakan didirikan atas usaha perorangan yang sematamata untuk ibadah, maka sistem dan penyelenggaraannya bergantung pada latar belakang pendiri dan pengasuhnya, sehingga pertumbuhan madrasah diniyah di Indonesia mengalami banyak corak dan ragamnya.

Sesuai dengan perkembangan zaman dan tuntutan kebutuhan, ideide pembaharuan pendidikan Agama, Madrasah Diniyah pun ikut serta mengalami pembaharuan. Beberapa organisasi penyelenggara Madrasah Diniyah melakukan modifikasi kurikulum bukan saja kurikulum inti yang dikeluarkan kemeterian Agama, melainkan pula kurikulum lokal pun terus dibenahi sesuai dengan prinsip dan karakteristik lingkungannya.

Dalam peraturan pemerintah No. 55 tahun 2007 tentang pendidikan Agama dan pendidikan keagamaan , pasal. 21 “Pendidikan Diniyah dibagi pada tiga jenis : formal, non formal dan informal”. Jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah dibagi pada tiga jenjang : 1. Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA), 2. Madrasah Diniyah Takmiliyah Wushto (MDTW) dan 3. Madrasah Diniyah Takmiliyah Ulya (MDTU)

Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) adalah satuan pendidikan keagamaan Islam bersifat non formal yang menyelenggarakan pendidikan tingkat dasar setara SD/sederajat dengan masa belajar 4 (empat) tahun dan jumlah jam belajar 18 (delapan belas) jam per minggu.

Adapun fungsi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) adalah :

  1. Menyelenggarakan pendidikan agama Islam yang meliputi AlQur’an, Hadits, Tajwid, Aqidah, Akhlaq, Fiqih, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Bahasa Arab dan Praktek Ibadah.
  2. Memenuhi kebutuhan masyarakat akan tambahan pendidikan agama Islam terutama bagi siswa yang belajar di sekolah dasar (SD) atau pendidikan sederajat.
  3. Memberikan bimbingan dalam pelaksanaan pengamalan ajaran Islam
  4. Membina hubungan kerjasama dengan orang, santri dan masyarakat.
  5. Melaksanakan tata usaha dan rumah tangga pendidikan serta perpustakaan. (Pedoman Pendirian, pengembangan dan Pengelolaan MDTA : 9)

Aksara Pegon

Menurut beberapa orang penulis, nama PEGON berasal dari kata jawa “Pego” yang artinya “menyimpang”. Karena memang huruf ini menyimpang dari ketentuan penulisan huruf Arab juga dari tulisan Jawa, (yang dahulu memakai aksara cacarakan). Jadi aksara pegon ini dapat dikatakan Arab bukan, Jawa juga bukan. Di Kesultanan Banten, aksara pegon ini menjadi aksara resmi yang dipakai dalam hal tulis menulis. Sultan mengirim surat ke sejumlah negara dengan aksara ini. Demikian juga administrasi kerajaan ditulis dengan aksara ini. (Mudjahid : 2012 :2).

Disadari bahwa saat ini dan di masa yang akan datang peranan pendidikan agama (Madrasah Diniyah) sangat penting dan keberhasilannya menjadi tuntutan orang tua dan seluruh lapisan masyarakat. Kondisi masyarakat khusunya generasi muda yang dilanda krisis moral dan akhlaq yang terjadi akhirakhir ini tidak bisa dianggap ringan maka harus selalu diupayakan solusinya. Salah satu upaya terbaik adalah melalui peningkatan mutu dan keteladan tenaga pendidik, masyarakat serta peran stakeholder yang sedikit banyak akan mewarnai perilaku generasi muda.

Sebagai wujud kepedulian masyarakat Kota Serang yang diprakarsai oleh Drs. H. Iwan Sudiana, MM.Pd (ketua FKDT Kota Serang) dengan pemateri A. Mudjahid Chudari, pada awal tahun pelajaran 20122013 telah disosialisasikan aksara pegon kepada seluruh Kepala dan Guru Madrasah Diniyah sekota serang dengan jadwal bervariasi setiap kecamatan yang dirasa cukup penting. Tujuannya agar santri atau murid Madrasah Diniyah menjadi penerus dan pewaris budaya besar yang manfaatnya akan mereka rasakan dalam kelancaran mempelajari AlQur’an. Aksara pegon sudah diterapkan pada Madrasah Diniyah yang ada di kota serang sejak dua tahun yang lalu pada soal Ujian Madrasah. Dan pada tahun ini sudah mulai dimasukkan sebagai mata pelajaran mulok.

Perhatian Pemerintah

Pemerintah Provinsi Banten (Biro Kesra) beberapa kali mengadakan workshop tentang Peningkatan Kapasitas dan Tatakelola Madrasah Diniyah serta peran Forum Madrasah Diniyah Takmiliyah di Provinsi Banten sudah mengalokasikan bantuan dana Hibah dan Bansos sekitar Rp. 300 M / tahunnya untuk pendidikan Agama dan Keagamaan. Kebijakan anggaran dan strategi pembangunan berprinsip pada Pro Growth, Pro Poor, Pro Job, Pro Environment dan Pro Public.

Hal yang menggembirakan juga bagi Madrasah Diniyah dalam beberapa pertemuan baik di acara workshop maupun pelatihan sering disampaikan oleh Dra. Hj. Eroh Bahiroh yang dahulu sebagai Kasi Diniyah pada Bidang Pekapontren bahwa Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Banten, sudah lama telah menganggarkan bantuan untuk Madrasah Diniyah di Provinsi Banten berupa BOP, rehab, tunjangan fungsional, beasiswa ustadz yang kuliah program S1 dan Diklat/Pelatihan Pengembangan Kurikulum dan Kanwil Kementerian Agama Provinsi telah menerbitkan Buku Pedoman Pendirian, Pengembangan dan Pengelolaan MDTA.

Ini artinya Madrasah Diniyah sebagai lembaga Pendidikan Agama yang mengajarkan dan mengamalkan nilainilai agama tentu keberadaannya sangat urgen bagi kehidupan manusia yang saat ini sedang mengalami dekadensi moral. (Chasan /Kepala MDTA Darul Irfan Kota Serang)***

Tulisan Terbaru
Tulisan Populer
Tulisan Terbaca